Buras, Kuliner Lebaran yang Tak Lekang oleh Waktu

OK Kutim – Saat Lebaran tiba, buras atau burasa menjadi salah satu hidangan khas yang selalu dinanti. Makanan berbahan dasar beras ini memiliki bentuk mirip ketupat, tetapi lebih pipih dan dibungkus dengan daun pisang. Di Sulawesi, khususnya bagi masyarakat Bugis dan Mandar, buras bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Menariknya, buras tak hanya dibuat oleh orang Sulawesi. Di Kota Sangatta, seorang pedagang asal Jawa Barat, Teteh Elis, justru sukses menjual buras setiap Lebaran. Omzetnya bahkan melonjak drastis dibandingkan hari biasa.

“Alhamdulillah, permintaan meningkat tajam. Kalau biasanya segitu-segitu saja, sekarang bisa naik dua kali lipat,” ungkapnya.

Kenaikan permintaan ini membuatnya harus bekerja ekstra. Tanpa bantuan tenaga tambahan, ia tetap berusaha memenuhi pesanan semampunya.

“Sebenarnya bisa produksi lebih banyak, tapi saya sendirian, enggak ada yang bantu. Paling bisa bikin 300 sampai 400 ikat,” ujarnya.

Selain buras, Teteh Elis juga menjual aneka kue basah dan menerima pesanan makanan khas lainnya seperti rica-rica. Namun, di balik meningkatnya penjualan, ia menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku. “Harga beras naik, kelapa naik, daun pisang juga ikut naik. Jadi, harga buras pun harus disesuaikan,” katanya.

Meski harga sedikit naik, pelanggan tetap setia. Menurutnya, mereka memahami kondisi pasar saat ini. “Enggak ada yang komplain, mereka tahu sendiri harga-harga sekarang kayak gimana,” tambahnya.

Teteh Elis berharap bisnisnya terus berkembang dan makin dikenal luas. “Mudah-mudahan usaha saya semakin maju dan rezekinya terus lancar,” harapnya.(*/One)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button